Interior Residential - Lanata 2 Residence:  Ruang Keluarga by RANAH

Panduan Membangun Rumah Adat Jawa

Dyah Swastantika Dyah Swastantika
Loading admin actions …

Zaman sekarang membangun rumah bergaya adat sudah tidak terlalu umum, karena kebanyakan orang cenderung lebih memilih rumah bergaya modern. Namun tentu, rumah joglo tetap ada peminatnya. Apakah anda tertarik membangun rumah dengan sentuhan adat Jawa namun masih kekurangan informasi untuk membangun? 

Kali ini homify memiliki ulasan lengkap mengenai rumah joglo atau rumah adat Jawa; mulai dari jenis-jenisnya, kelebihan dan kekurangannya, serta perkiraan biaya membangunnya. Tentu, hal ini juga tergantung dari preferensi anda, apakah anda ingin rumah masa depan anda sepenuhnya didesain seperti rumah joglo atau modern dengan sentuhan Jawa yang tradisional namun elegan.

Mari disimak, dijamin anda akan lebih terinspirasi untuk membangun rumah bergaya joglo anda..

1. Jenis-jenis rumah adat Jawa

Rumah adat Jawa atau rumah joglo umumnya didirikan oleh masyarakat yang tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ciri khas rumah adat Jawa adalah bentuk atap ruang utama yang tinggi dan disangga oleh empat tiang yang disebut soko guru. Sebutan joglo mengacu pada ruang utama sekaligus ciri khusus rumah adat Jawa. Ruang utama yang dimaksud adalah sebuah ruang terbuka tanpa dinding, berfungsi sebagai ruangan di mana tuan rumah menemui para tamunya, berbincang-bincang dengan anggota keluarga, atau sebagai tempat berlangsungnya acara ritual, musyawarah, atau hajatan (acara pernikahan, khitanan, dll.). Sedangkan ruangan lainnya adalah pringgitan (tempat pertunjukan wayang kulit), dan tiga senthong (ruangan tertutup) yang terletak di tengah, kanan, dan kiri rumah joglo. Tiga senthong ini berfungsi sebagai area pribadi penghuni rumah, yaitu kamar-kamar tidur dan ruang keluarga. Lalu ada juga bangunan tambahan yang berada di samping kanan atau kiri rumah yang berfungsi sebagai dapur. 

Menurut bentuk keseluruhan dan bentuk kerangkanya, rumah joglo dibedakan menjadi:  

  •  Joglo nom (joglo muda), bentuk atapnya memanjang dan tinggi  
  • Joglo tuwo (joglo tua), atapnya tidak memanjang dan cenderung mendatar (rebah) 
  • Joglo lanangan (joglo pria), rumah joglo yang menggunakan konstruksi dari balok kayu tebal  
  •  Joglo wadon (joglo wanita), rumah joglo ini menggunakan rangka kayu yang cenderung pipih.

2. Cara membangun dan perkiraan biaya rumah adat Jawa

Tulodong IV :  Ruang Makan by WOSO Studio
WOSO Studio

Tulodong IV

WOSO Studio

- Bahan Rumah adat Jawa di masa lalu semua bagiannya terbuat dari kayu, baik tiang-tiang utama, balok penyangga atap, lantai, maupun dinding bagian dalam rumah joglo. Untuk tiang-tiang penyangga biasanya terbuat dari kayu jati, sedangkan bagian lainnya terbuat dari kayu sonokeling. Sedangkan penutup atap yang lazim digunakan adalah genteng tanah liat.

- Cara membangun atap rumah joglo 

  • 1. Seluruh permukaan tanah dipadatkan agar tidak menurun saat tiang soko guru didirikan. Setelah pondasi diletakkan, kemudian soko guru dipasang dengan jarak yang sama. Setelah soko guru terpasang, tahap selanjutnya adalah memasang konstruksi penyangga atap. 
  • 2. Tumpang sari dipasang di atas soko guru. Kemudian kuda-kuda diletakkan di atas ring balok, lalu diikat menggunakan gording. 
  • 3. Balok berukuran 5 x 10 cm dipasang diagonal di antara kuda-kuda. 
  • 4. Kayu kaso (kasau) dipasang di atas gording. Kemudian reng dipasang di atas kasau. Jarak reng disesuaikan dengan jenis penutup atap yang akan digunakan. 
  • 5. Pasang penutup atap. - Perkiraan biayaMengingat seluruh bagian rumah adat Jawa asli terbuat dari kayu, maka diperlukan sekitar 5,7 meter kubik kayu untuk membangun pendoponya saja. Kayu jati hanya digunakan untuk bagian penyangga (soko guru) saja, karena akan sangat berisiko bila seluruh kerangka penyangga atap juga dibuat dari kayu jati. Rincian biaya secara garis besar adalah: 1. Kayu jati per meter kubik Rp 7 juta 2. 5,7 meter kubik kayu sonokeling @ Rp 6 juta = Rp 34, 2 juta 3. Genteng tanah liat @ Rp 1100

3. Bagian rangka atap rumah adat Jawa

Tiang-tiang soko guru biasanya lebih tinggi dari tiang-tiang lain di rumah joglo. Pada kedua ujung soko guru biasanya dilengkapi ornamen. Masing-masing soko guru disambungkan oleh balok kayu yang diberi nama tumpang sari dan sunduk. Di atasnya terdapat susunan rangka atap rumah joglo yang kompleks, dengan setiap bagian yang memiliki namanya sendiri. Secara singkat, masing-masing bagian rangka atap rumah joglo dapat dijabarkan sebagai berikut: 

1. Molo, balok yang terletak di bagian paling atas dan dianggap sebagai kepala bangunan 
2. Pengeret, balok penghubung sekaligus stabilisator antar tiang. ini adalah kerangka atap rumah bagian atas yang melintang sesuai lebar rumah dan dikaitkan dengan blandar 
3. Ander, balok di atas pengeret untuk menopang molo 
4. Geganja, berfungsi sebagai penguat ander 
5. Sunduk, stabilisator tiang yang berfungsi untuk menahan goncangan 
6. Kili, balok kayu untuk mengunci tiang dan cathokan sunduk 
7. Santen, penyangga yang terletak di antara pengeret dan kili 
8. Pamidhangan, rongga yang terbentuk oleh rangkaian balok pada brunjung 
9. Dhadha manuk, balok pengeret yang berada di tengah pamidhangan 
10. Panitih 
11. Penangkur 
12. Dudur, balok penghubung sudut persilangan penitih, penanggap, dan penangkur dengan molo 
13. Kecer, balok penyangga molo sekaligus penopang atap 
14. Emprit ganthil, pengunci purus tiang yang menonjol
15. Elar, ekstensi soko guru bagian atas yang mengarah keluar 
16. Songgo uwang, konstruksi penyangga untuk keperluan artistik.

4. Keunikan konstruksi rumah adat Jawa

Konstruksi rangka atap joglo terdiri dari sistem cathokan dan sistem purus. Seperti terlihat pada gambar, sistem purus adalah sistem konstruksi knockdown dengan tonjolan dan lubang yang saling mengunci. Sedangkan sistem cathokan terdiri dari dua permukaan cekung yang akan saling mengunci bila dipertemukan. Mirip seperti sistem konstruksi pada rumah prefabrikasi. Dengan adanya dua sistem ini, rumah adat Jawa dapat dibangun dengan tanpa bantuan paku maupun baut. 

5. Kelebihan rumah adat Jawa

Interior Residential - Lanata 2 Residence:  Ruang Keluarga by RANAH
RANAH

Interior Residential – Lanata 2 Residence

RANAH

Sebagai kekayaan arsitektur tradisional Indonesia, rumah adat Jawa memiliki kelebihan sebagai berikut: 

1. Berkat adanya bentuk atap yang meruncing di bagian tengah, udara di dalam rumah akan terasa sangat sejuk. 
2. Tersedia area cukup luas untuk bersosialisasi, baik dengan sesama anggota keluarga atau tamu yang datang berkunjung.
3. Adanya pembagian ruang untuk semua keperluan, baik untuk aktivitas jasmani maupun rohani. 
4. Rumah joglo dapat dipindahkan ke lokasi lain, sama seperti rumah prefabrikasi. 
5. Lantaran semua bagiannya terbuat dari kayu, rumah adat Jawa lebih mampu mengatasi hawa panas yang datang dari luar. 
6. Lebih ramah lingkungan dan sisa material tidak sulit dibersihkan. 

6. Kekurangan rumah adat Jawa

Interior Residential - Lanata 2 Residence:  Ruang Keluarga by RANAH
RANAH

Interior Residential – Lanata 2 Residence

RANAH

Agar seimbang, kekurangan rumah adat Jawa yang disebutkan di bawah ini juga perlu diketahui: 

1. Pada dasarnya, rumah joglo adalah rumah para bangsawan atau orang kaya jaman dahulu. Diperlukan lahan yang sangat luas untuk bisa membangun rumah joglo asli yang lengkap dengan pendopo, pringgitan, senthong dan gandhok. 
2. Diperlukan biaya cukup besar untuk membangun rumah adat Jawa asli, akibat semakin mahalnya harga material kayu. 
3. Segala aktivitas yang dilakukan di pendopo akan terlihat dengan jelas oleh para tetangga. Jelas kurang cocok untuk mereka yang menyukai privasi tinggi. 
4. Bila genteng penutup atap bergeser atau pecah, maka ruangan di bawahnya akan bocor saat hujan dan terpapar cahaya matahari langsung saat cuaca sedang cerah. 
5. Tanpa adanya dinding penutup, lantai area pendopo lebih mudah kotor akibat debu. 

7. Tips memadukan gaya Jawa dan gaya modern di rumah

Dempo Rumah Batik:  Ruang Keluarga by Jati and Teak
Jati and Teak

Dempo Rumah Batik

Jati and Teak

Seperti yang telah kami ungkapkan di awal artikel ini, apa yang paling sesuai untuk sebuah masyarakat adalah segala hal yang berasal dan diciptakan di mana mereka tinggal. Meski demikian, waktu terus berjalan. Apa yang dulunya paling sesuai untuk suatu masyarakat harus bisa beradaptasi dengan perubahan. Demikian juga arsitektur tradisional Jawa bisa disesuaikan agar relevan dengan situasi terkini, agar tetap dicintai dan diingat oleh masyarakat sepanjang masa. Menurut homify, beginilah caranya: 

1. Rumah adat Jawa masa kini tidak harus terbuat dari kayu seluruhnya. Agar lebih hemat biaya, semen, batu bata, atau beton bisa digunakan sebagai pengganti kayu untuk dinding, Untuk nuansa tradisional yang lebih otentik, pertimbangkan dinding batu bata ekspos.  2. Bila ingin memiliki rumah adat Jawa tapi tak ingin repot membangunnya, kini sudah tersedia joglo siap pakai. Saat ini  rumah joglo knockdown seluas 224 meter persegi dengan 5 kamar tidur telah dijual bebas dan ditawarkan seharga Rp 325 juta. 

3. Ingin hadirkan nuansa Jawa tapi tak ada dana membangun atau membeli rumah joglo? Jangan galau. Tatalah interior ruangan dengan memadukan gaya Jawa dan gaya modern. Misalnya dengan menempatkan furnitur berukir, lampu gantung kuno, atau cermin berukir di ruangan Anda. Ganti pelapis sofa dan sarung bantal kursi dengan batik. Agar lebih jelas, mintalah bantuan profesional untuk merancang tata ruang Jawa modern. 

4. Keterbukaan ala pendopo rumah joglo bisa diterapkan dengan menciptakan ruang terbuka sebanyak mungkin, dan tersebar di beberapa titik rumah. Misalnya di halaman belakang, di samping rumah, dan depan rumah. Area terbuka tidak perlu luas, tapi cukup menampakkan suasana luar ruangan. Misalnya, sebuah ruang makan dan dapur yang berhadapan dengan taman kecil.

Tertarikkah Anda membangun rumah adat Jawa? 
 Rumah by Casas inHAUS

Need help with your home project? Get in touch!

Discover home inspiration!