63 Arsitek di Jakarta

Area

Apa keuntungan menggunakan jasa arsitek lokal?

Jika anda berlokasi di Jakarta, maka tentu lebih praktis menggunakan jasa arsitek lokal terdekat. Simak ulasan di bawah ini untuk keterangan lebih lengkap.

Seperti apa perkembangan arsitektur di Jakarta?

Gaya eklektik menjadi sesuatu yang tak bisa lepas dari arsitektur Jakarta, karena pengaruh koloni Belanda. Banyak bangunan tua bergaya kolonial yang kemudian beralih menjadi bergaya modern. Pada dasarnya bangunan peninggalan Belanda ini banyak yang dikonservasi pada gaya aslinya dari Eropa tapi banyak juga yang kemudian ketika akan dibangun lebih disesuaikan dengan iklim tropis. Ciri-cirinya misalnya penggunaan atap pelana, cerobong asap semu, tower, dsb.

Pada awalnya bangunan-bangunan tua bergaya Eropa di Jakarta dibangun untuk tujuan pertahanan seperti benteng, sehingga dibangun dengan bahan seadanya seperti kayu, bongkahan batu karang, dst. Rumah tersebut ditujukan lebih untuk hunian sementara dan bukan hunian tinggal tetap.

Pada abad ke-17 bangunan di Jakarta lebih banyak menggunakan material batu bata, dan mulai banyak dibangun villa. Pada akhir abad ke-19 dan 20 gaya arsitektur yang ada sudah bercampur dengan gaya modern dan tradisional (terutama Jawa).

Seperti apa cirinya?

Ruang utamanya simetris, dapur dan kamar mandi terpisah serta berada di belakang, halamannya berada di sekeliling bangunan, lebih banyak jendela, pintu serta ventilasi yang berukuran relatif kecil, bangunan biasanya hanya satu tingkat saja.

Kenapa menggunakan jasa arsitek di Jakarta kini penting?

Setiap kota besar memiliki kondisi tersendiri dengan berbagai macam variabel, seperti kondisi tanah, lanskap, infrastruktur, sumber air bersih, potensi bencana, arah matahari dan tentu untuk Jakarta kebisingan. Memperhitungkan seluruh faktor ini tentu sama sekali bukan hal yang mudah, namun para arsitek dan desainer sudah terlatih dan dididik khusus untuk mengatasi serta menganalisa hal tersebut.

Selain itu, mereka juga lebih memahami regulasi dan aspek legal di kota bersangkutan.

Berapa biaya membangun rumah di Jakarta?

Harga lahan beserta bangunan di sekitar Jakarta bervariasi dan tergantung areanya:

Jakarta Barat: Harganya bervariasi mulai Rp. 8,8 juta – Rp.30,5 juta per meter persegi, sehingga rata-ratanya Rp. 16,6 juta. Area Mangga Besar dinilai sebagai area dengan harga tertinggi.

Jakarta Utara: Dengan rata-rata Rp. 20,7 juta per meter persegi. Beberapa area harganya sangat murah, hanya Rp. 5,4 juta per meter persegi saja, namun daerah lainnya dapat melonjak beberapa kali lipat hingga Rp. 37 jutaan.

Jakarta Timur: Dibanding area Jakarta lainnya, Jakarta Timur merupakan wilayah yang paling harga propertinya paling terjangkau, rata-rata harganya hanya sekitar Rp. 11 jutaan saja karena harga tertinggi hanya Rp. 26 juta, sementara yang termurah Rp. 6,75 juta per meter persegi saja.

Jakarta Pusat: Sebagai pusat ibukota tentu maklum jika rata-rata harga propertinya tertinggi – yaitu mencapai hampir Rp. 25 juta. Kawasan dengen harga termahal adalah kawasan Menteng, yang harganya mencapai Rp. 90 juta per meter perseginya.

Jakarta Selatan: Dengan rata-rata Rp. 23,8 juta per meter persegi, harga terendah mulai dari Rp. 10,3 juta hingga yang termahal Rp. 57 jutaan.

Pada tahun 2016 kuartal ketiga, daerah Jakarta Selatan mengalami kenaikan harga sebanyak 6,6% sementara Jakarta Pusat mengalami kenaikan sebanyak 7,5%. Kedua area ini memang memiliki kecenderungan kenaikan harga lebih banyak ketimbang area lainnya.

Apa saja peraturan untuk membangun rumah di Jakarta?

Untuk wilayah Jakarta ada 3 Perda yang perlu diikuti, yaitu:

No. 7 tahun 2010 tentang bangunan gedung

No. 1 tahun 2012 tentang RTRW 2030

No. 1 tahun 2014 tentang RDTR dan peta zonasi

Ada beberapa hal yang dibahas dalam ketiganya, yaitu mencakup:

KDB (Koefisien Dasar Bangunan): Pada dasarnya menyatakan bahwa saat membangun rumah anda harus menyisakan sebagian lahan untuk area resapan air, untuk mencegah bencana banjir. Cara menghitungnya ditentukan oleh ketentuan presentase daerah yang bersangkutan dikalikan dengan luas lahan yang anda miliki.

GSB (Garis Sepadan Bangunan): Mengatur lahan mana yang boleh dan tidak boleh dibangun. Tujuannya adalah untuk menciptakan rumah yang sehat dengan mengatur daerah hijau dan resapan air, juga untuk memaksimalkan penetrasi udara ke dalam rumah. Selain itu GSB juga membantu privasi dan keamanan anda, karena ia juga mengatur jarak rumah hingga batas jalan raya.

GSJ (Garis Sepadan Jalan): Aturan ini memastikan anda menyisakan lahan untuk perluasan lahan di masa mendatang.

KLB: Koefisien Lantai Bangunan: Adalah perbandingan total bangunan dan luas lahan. Angka KLB tergantung kepadatan daerah yang bersangkutan, ia akan menentukan seberapa luas lahan yang boleh dibangun, seberapa luas lahan yang boleh dibangun diatasnya untuk lantai berikut, dst.

Tenaga profesional mana yang ada di wilayah Jakarta?

Homify memiliki banyak tenaga profesional yang mumpuni di bidangnya, yang berlokasi di Jakarta. Baik arsitek maupun desainer interior, konsultasikan desain dan proses renovasi yang anda inginkan untuk mendapatkan rumah idaman anda.