Arsitek di Surakarta | homify

2 Arsitek di Surakarta

Area

Arsitek Surakarta

Surakarta, atau disebut juga dengan Solo atau Sala, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tegah. Kota seluas 44 kilometer persegi ini berbatasan dengan ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Surakata juga merupakan kota terbesar ketiga di Pulau Jawa setelah Bandung dan Malang berdasarkan jumlah penduduk (jumlah penduduk Surakarta kini mencapai sekitar 500 ribu jiwa). 

Kota ini dilewati dengan sungai Bengawan Solo dan terkenal dengan industri batiknya. Sentra kerajinan dan perdagangan batik di Surakarta berada di Laweyan dan Kauman. Selain itu, Kota Surakarta juga dikenal sebagai daerah wisata dan biasa dikunjungi oleh berbagai wisatawan, mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Biasanya, wisatawan yang sedang berlibur di Yogyakarta akan mampir ke Surakarta untuk menikmati kekayaan budayanya dan melihat kecantikan batik Surakarta.

Sejarah Perkembangan Arsitektur Surakarta

Kota Surakarta memiliki berbagai keragaman budaya yang kental dan menjadi salah satu pusat budaya Jawa. Tidak hanya batiknya, Surakarta juga memiliki arsitektur bangunan yang erat dengan akulturasi budaya Jawa dan Belanda. Hal ini tak lepas dari kuatnya budaya Jawa dari Pura Mangkunegaran, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,  dan kolonial Belanda di masa lalu. 

Contoh arsitektur bangunan di Surakarta yang masih kental dengan budaya Jawa dan Belandanya adalah Loji Gandrung yang kini menjadi Rumah Dinas Walikota. Rumah dinas tersebut termasuk ke dalam bangunan Indis karena adanya perpaduan ciri khas Jawa dan Belanda. Konsep bangunan Jawa terlihat dari adanya Loji, halaman yang panjang.

Gaya bangunan India banyak ditemukan di Kota Surakarta, contohnya Pasar Gedhe (Hardjonagoro), Pasar Klewer, dan beberapa bangunan cagar budaya lainnya di Surakarta. Bangunan-bangunan bergaya Indis tersebut lahir dari proses akulturasi budaya yang melahirkan ekologi budaya yang kuat hingga kini. 

Perkembangan Arsitektur Surakarta Masa Kini

Rumah tradisional Jawa erat kaitannya dengan budaya dan syarat dengan simbol-simbol, baik simbol religius, adat istiadat, atau tradisi. Ini menunjukkan bahwa arsitektur di Surakarta tidak hanya sekadar bangunan yang fungsional, tetapi ada fungsi simbolis dan religius di dalamnya.

Biasanya, rumah-rumah tradisional di Surakarta memiliki bentuk rumah dengan aspek simbolis yang merepresentasikan pemiliknya. Inilah sebabnya arsitektur tradisional di Surakarta secara perlahan semakin termakan modernisasi. Pengaruh budaya Eropa telah masuk dan mengubah cara pandang masyarakat Indonesia, dari segi politik hingga gaya hidup. 

Perubahan arsitektur semakin cepat terjadi. Menginjak abad ke-20, sudah hampir tidak ada bangunan rumah yang memiliki corak asli dan kental dengan budaya Jawa. Meski ada beberapa bangunan baru yang dibangun dengan unsur tradisional, yaitu bangunan dengan atap Limasan atau Joglo, unsur arsitektur budaya Barat masih kerap dipalikasikan.

Pengaruh arsitektur Eropa dapat dilihat pada ornamen yang ada di tubuh bangunan, seperti pada tiang penyangga. Tiang dibuat bergaya klasik, dan batang tiang yang disebut sebagai saka guru, saka rawa, dan saka emper sudah tidak terbuat dari kayu jati dan diganti dengan pilar yang terbuat dari batu dan semen.

Pentingnya Jasa Arsitek Surakarta

Mempertimbangkan beberapa faktor penting sebelum membangun rumah di Surakarta harus dilakukan untuk menciptakan hunian yang ideal. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah iklim dan geografis. 

Kota Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 meter diatas permukaan laut dan pusat kotanya berada 95 meter diatas permukaan laut, dengan luas 44,1 kilometer persegi (0,14% luas Jawa Tengah). Surakarta berada disekitar 65 kilometer di timur laut Yogyakarta dan 100 km di tenggara Semarang serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu dan Merapi (ketinggian 3115 meter) di bagian barat, Gunung Lawu (tinggi 2806 meter) di bagian timur dan Pegunungan Sewu di bagian selatan.

Surakarta memiliki iklim muson tropis. Musim hujan di Surakarta dimulai dari bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September, sama seperti kota-kota lain di Indonesia. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. Suhu udara tertinggi adalah 32,5 derajat Celsius, sedangkan terenda adalah 21,0 derajat Celsius.

Untuk memperhitungkan aspek-aspek yang berlaku di Surakarta ke dalam arsitektur rumah bukan pekerjaan yang mudah, dibutuhkan jasa arsitek Surakarta yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam mempertimbangkan semua aspek yang berlaku di Surakarta. Arsitek Surakarta mampu memahami dan mengatasi aspek-aspek tersebut ke dalam proyek renovasi sehingga bisa mewujudkan hunian impian Anda.

Bagaimana menemukan Arsitek yang tepat di Surakarta? Bersama Homify, Anda bisa terhubung secara mudah dengan banyak Arsitek yang mumpuni dan berpengalaman di Surakarta. Saatnya berkonsultasi dengan profesional kami untuk realisasikan rumah impian.