43 Arsitek Interior di Jakarta

Area

Arsitek Interior di Jakarta

Jejak arsitektur neoklasik di Jakarta

Era imperialisme atau kolonialisme bukan hanya meninggalkan kisah bernuansa abu-abu, tapi juga meninggalkan jejak yang membentuk karakter wilayah koloni hingga beratus-ratus tahun kemudian. Di antara ratusan gedung peninggalan Belanda di Indonesia, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) adalah salah satu bangunan bergaya kolonial yang masih terpelihara cukup baik dan berfungsi persis seperti tujuan pendiriannya. Ide pendirian GKJ pertama kali dicetuskan oleh H.W Daendels, Gubernur Jendral Batavia di tahun 1808. Ide itu kemudian direalisasikan oleh Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa. Tahun 1814, Raffles memerintahkan pembangunan sebuah gedung teater sederhana dari material bambu di Waterlooplein (Lapangan Banteng) sebagai sarana hiburan bagi serdadu Inggris.

Setelah Inggris meninggalkan Batavia, pembangunan gedung teater dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Konstruksi bambu yang telah lapuk digantikan oleh struktur permanen. Desain gedung teater dirancang oleh arsitek J.C Schultze dengan gaya neoklasik. Gaya arsitektur ini memiliki ciri khas pilar-pilar besar dan ornamen pada fasad depan. Dari luar, bangunan neoklasik tampak memiliki atap pelana seperti bangunan lainnya yang didirikan di jaman itu. Setelah berada di dalam, kita akan takjub karena bentuk atap interior yang tinggi dan melengkung. Demikian juga pada gedung yang dulunya bernama Schouwburg Weltevreden. Kita bisa melihat ornamen neoklasik abad ke-19 di sepanjang atap dan balkon. Sementara panggung menjadi pusat perhatian yang dikawal dua pilar berornamen. GKJ adalah sebuah contoh bahwa di masa lalu, seorang arsitek telah memiliki lingkup kerja yang luas. Ia tidak hanya mendesain sebuah bangunan agar tidak hanya berfungsi sesuai kebutuhan, namun juga serasi dengan bangunan lain di sekitarnya. Ia juga bertanggung jawab untuk mengatur tampilan interiornya. Di masa modern, tugas itu menjadi tanggung jawab seorang arsitek interior.

Mengapa perencanaan itu penting?

Dalam dunia rancang bangun, perencanaan dipresentasikan dalam bentuk floor plan. Floor plan dapat didefinisikan sebagai gambar penampakan atas keterkaitan antar ruangan, ruang dan fitur fisik lainnya dalam sebuah struktur yang sama rata. Lazimnya, floor plan merupakan proyeksi rencana ruang pada ketinggian lantai 1,2 meter di mana obyek tiga dimensi ditampilkan dalam bentuk dua dimensi. Pembuatan floor plan adalah bagian dari lingkup tugas seorang arsitek interior. Proses pembuatan floor plan memerlukan keterampilan khusus, khususnya pada perencanaan gedung berdimensi besar. Oleh karena itu jasa pembuatan floor plan tidak gratis. Namun pemilik bangunan tidak perlu khawatir karena Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta telah menetapkan honorarium arsitek (dan arsitek interior) berdasarkan biaya bangunan. Tarif telah ditetapkan untuk bangunan yang menelan biaya kurang dari Rp 200 juta sampai lebih dari Rp 500 milyar dan berdasarkan karakter, kompleksitas serta tingkat kesulitan tinggi.

Inilah beberapa alasan mengapa floor plan diperlukan sebelum merealisasikan pembangunan gedung:

1. Membangun angan-angan

Membangun gedung atau sebuah rumah sama dengan membangun sesuatu yang sebelumnya hanyalah angan-angan. Saat berinteraksi dengan arsitek interior, kita bebas menyampaikan angan-angan itu. Arsitek interior akan merespon dengan membuat floor plan.

2. Mencapai keberhasilan 100% (atau mendekati)

Melakukan sesuatu tanpa rencana, sama artinya dengan melakukan sesuatu tanpa arah. Dengan adanya floor plan, kita sebagai pemilik lahan atau bakal bangunan telah memiliki panduan bagaimana melaksanakan proses pembangunan agar mendapatkan hasil bangunan yang diinginkan.

3. Menghemat bujet

Ada banyak cara untuk menghemat anggaran pembangunan. Memilih material berharga miring (murah) bukanlah cara satu-satunya. Demikian juga melewati proses pembuatan floor plan dengan tujuan menghemat biaya jasa arsitek interior. Tanpa adanya floor plan proses pembangunan dan pengaturan interior dilakukan berdasarkan intuisi, dan kita sendiri pun tidak tahu pasti seperti apa hasilnya di kemudian hari. Akibatnya, apa yang sudah terlanjur dibangun harus dibongkar atau bahkan tidak digunakan sama sekali karena tidak sesuai dengan harapan. Biaya yang sudah dikeluarkan untuk membangun atau untuk pengadaan elemen interior pun menjadi mubazir alias sia-sia.

4. Menyesuaikan ide dengan kondisi

Melalui floor plan, kita bisa mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menciptakan ruangan yang fungsional dan nyaman berdasarkan karakteristik lahan. Arsitek interior profesional akan membantu kita mencari jalan keluar jika lahan yang tersedia tidak ideal. Misalnya berada pada posisi miring, tidak memiliki ketinggian permukaan yang sama, atau berada di tengah pemukiman yang padat atau sangat bising.

5. Bagian dari promosi

Khusus untuk bangunan komersial seperti kompleks perkantoran atau apartemen, floor plan bisa bermanfaat bahkan sampai gedung telah selesai dibangun. Denah ruang kantor atau apartemen yang ditawarkan bisa dicantumkan dalam media promosi agar calon pembeli atau penyewa memiliki gambaran aktual tentang ruangan itu. Promosi memang bisa dilakukan melalui media foto, namun calon konsumen tidak bisa mengetahui secara pasti ukuran ruangan, titik saklar listrik, letak pipa air, arah bukaan pintu atau jendela dan letak lubang ventilasi.